Selasa, 31 Januari 2012

Story about my 2D ...............

Hemmm dah lama nga menyentuh blog ini... Mudah2an mulai rajin nulis lagi

Being single parent memang tidak mudah, totaly dah hampir mau setahun hal ini dijalani, insyaallah Allah kasih kekuatan lebih agar dapat membimbing anak2 jadi anak soleh dan berguna dikemudian hari (amin ya rab).

dari hari ke hari anak2 alhamdullilah tumbuh kembangnya bagus, kekhawatiran pada danesh karena kebocoran jantungnya Alhamdullilah tidak banyak mengganggu hanya saja perlakuannya beda, untuk nafsu makan terutama Danesh sangat berbeda dari mas Daffa. Tetapi alhamdullilah berat badannya bisa dibilang meningkat, walau setiap hari harus tetep sedikit memaksa dan berjibaku dengan lepehan makanan.

Danesh sangat berbeda dari Daffa dia sangat tangkas dan lebih berani (alhamdullilah ya nak) so exited melihat kelakuannya tiap hari. Dari belajar kosakata baru, melakukan hal2 baru seperti memanjat meja makan, Ram jendela, tangga tempat tidur tingkat, naik sepeda dan bermain layang2 diusianya yg 18 bulan dia sudah pasih bilang Mimi, ABi, Mba, mas Fafa, Hammam (nama sepupunya, Abang (nama sepupunya) bahkan memanggil nama anak tetangga, dah bisa bilang maem, heem, ia, ndak, dah, nta, kaki, tua, lah( alhamdullilah) tuci (kucing), yayam (ayam), mayu (om wahyu) miyang (om ian)... selalu membuat sumringah dan terkaget2 dgn tingkah laku barunya. Berharap selalu pinta ya nak.

Mas Daffa makin hari makin pintar, yg gede sudah tidak kayak kemarin2 yg jika dipukul adenya bales, sekarang M Daffa kalau dipukul cuma teriak, mimi ade nakal suka pukul2 na... Makasih ya mas sudah tidak sering2 nakalin ade. walau terkadang masih usil saja suka buat ade danesh menagis karena rebutan makanan dan mainan, namanya anak2 pasti akan mengalami hal2 ini, tapi justru ini yg selalu buat kangen, terutama jika mas Daffa menginap dirumah abi dan mama barunya, rumah jadi agak sepi ndak ada yang merecoki ade danesh...

Daffa tahun ini mau masuk SD tapi masih ada kekhawatiran dia blm siap mandiri untuk masuk SD, karena terkadang apa2 masih perlu dibantu, apa karena anak cowo ya sehingga harus dibantu. Belum berani memaksakan jika ternyata dia belum siap untuk masuk SD, lebih baik menunggu lagi setahun agar dia benar2 siap untuk masuk di sekolah dasar. Daffa agak susah jika disuruh belajar baca, sudah mencoba berbagai macam teknik, dari membaca sambil bermain, menggunakan media elektronik, pakai gadget, sampai menggunakan permainan zaman saya kecil, so moody, bener2 harus mencari sela dimana dia benar2 sdg enjoy untuk diajak membaca dan tanpa pasksaan.

Perubahan kondisi kami sangat mempengaruhi psikis dia, terkadang Daffa jd sangat suka berteriak dan marah2 sangat keras kepala, mudah2an seiring dengan perkembangannya hal ini tidak mempengaruhi tumbuh kembang dan emosi jiwanya. Sangat2 perlu perhatian khusus dan harus sering2 dikasih pengertian ke Daffa untuk bisa lebih lembut lagi. Saya belajar dari kalian nak.. bantu mimi untuk bisa jadi ibu yang bisa mengerti kalian dan baik untuk kalian ya sayang...

Mimi bangga memiliki Kalian..... :) :)

My Son try to play a kite and teach to his brother how to play...


Danesh nga mau kalah sama mas, main layangan juga

Jumat, 27 Januari 2012

Kisah Sahabat : Salman Al-Farisi

Menyadur untuk di sharing ke teman2 semua....

Di antara sejumlah peperangan yang paling dahsyat adalah Perang Khandaq. Kala itu kaum Yahudi Madinah melakukan persekongkolan dengan musyrikin Makkah yang terdiri atas berbagai golongan, dan bergabung menjadi satu untuk menghancurkan umat Islam di Madinah.

Blokade dilakukan oleh tentara gabungan itu, didukung dengan sabotase dari dalam oleh orang-orang Yahudi. Umat Madinah sudah mulai dihinggapi kelelahan dan putus asa, kelaparan dan kehilangan semangat, sementara setiap saat tentara musuh bakal menyerbu dengan sengit.

Dalam kekalutan itulah muncul sebuah nama ke permukaan, nama yang tadinya tidak terlalu diperhitungkan milik seorang mualaf muda kelahiran negeri Persia. Ia adalah Salman yang dijuluki al Farisi sesuai tanah tumpah darahnya. Pemuda ini menyarankan agar digali parit panjang dan dalam melingkari kota Madinah.

Rasulullah menyambut gagasan itu dengan gembira. Dan itulah awal kebangkitan semangat umat Islam untuk mempertahankan kedaulatannya dan awal kehancuran musuh-musuh umat Islam.

Sejak itu nama Salman al Farisi mencuat naik. Di zaman pemerintahan Umar bin Khaththab, Salman mendaftarkan diri untuk ikut dalam ekspedisi militer ke Persia. Ia ingin membebaskan bangsanya dari genggaman kelaliman Kisra Imperium Persia yang mencekik rakyatnya dengan penindasan dan kekejaman. Untuk membangun istana Iwan Kisra saja, ribuan rakyat jelata terpaksa dikorbankan, tidak setitik pun rasa iba terselip di hati sang raja.

Di bawah pimpinan Panglima Sa’ad bin Abi Waqash, tentara muslim akhirnya berhasil menduduki Persia, dan menuntun rakyatnya dengan bijaksana menuju kedamaian Islam. Di Qadisiyah, keberanian dan keperwiraan Salman al Farisi sungguh mengagumkan sehingga kawan dan lawan menaruh menaruh hormat padanya.

Tapi bukan itu yang membuat Salman meneteskan air mata keharuan pada waktu ia menerima kedatangan kurir Khalifah dari Madinah. Ia merasa jasanya belum seberapa besar, namun Khalifah telah dengan teguh hati mengeluarkan keputusan bahwa Salman diangkat menjadi amir negeri Madain.

Umar secara bijak telah mengangkat seorang amir yang berasal dari suku dan daerah setempat. Oleh sebab itu ia tidak ingin mengecewakan pimpinan yang memilihnya, lebih-lebih ia tidak ingin dimurkai Allah karena tidak menunaikan kewajibannya secara bertanggung jawab.

Maka Salman sering berbaur di tengah masyarakat tanpa menampilkan diri sebagai amir. Sehingga banyak yang tidak tahu bahwa yang sedang keluar masuk pasar, yang duduk-duduk di kedai kopi bercengkrama dengan para kuli itu adalah sang gubernur.

Pada suatu siang yang terik, seorang pedagang dari Syam sedang kerepotan mengurus barang bawaannya. Tiba-tiba ia melihat seorang pria bertubuh kekar dengan pakaian lusuh. Orang itu segera dipanggilnya; “Hai, kuli, kemari! Bawakan barang ini ke kedai di seberang jalan itu.” Tanpa membantah sedikitpun, dengan patuh pria berpakaian lusuh itu mengangkut bungkusan berat dan besar tersebut ke kedai yang dituju.

Saat sedang menyeberang jalan, seseorang mengenali kuli tadi. Ia segera menyapa dengan hormat, “Wahai, Amir. Biarlah saya yang mengangkatnya.” Si pedagang terperanjat seraya bertanya pada orang itu, “Siapa dia?, mengapa seorang kuli kau panggil Amir?”. Ia menjawab, “Tidak tahukah Tuan , kalau orang itu adalah gubernur kami?”. Dengan tubuh lemas seraya membungkuk-bungkuk ia memohon maaf pada ‘ kuli upahannya’ yang ternyata adalah Salman al Farisi .

“Ampunilah saya, Tuan. Sungguh saya tidak tahu. Tuan adalah amir negeri Madain, “ ucap si pedagang. “ Letakkanlah barang itu, Tuan. Biarlah saya yang mengangkutnya sendiri.” Salman menggeleng, “Tidak, pekerjaan ini sudah aku sanggupi, dan aku akan membawanya sampai ke kedai yang kau maksudkan.”

Setelah sekujur badannya penuh dengan keringat, Salman menaruh barang bawaannya di kedai itu, ia lantas berkata, “Kerja ini tidak ada hubungannya dengan kegubernuranku. Aku sudah menerima dengan rela perintahmu untuk mengangkat barang ini kemari. Aku wajib melaksanakannya hingga selesai. Bukankah merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meringankan beban saudaranya?”

Pedagang itu hanya menggeleng. Ia tidak mengerti bagaimana seorang berpangkat tinggi bersedia disuruh sebagai kuli. Mengapa tidak ada pengawal atau tanda-tanda kebesaran yang menunjukkan kalau ia seorang gubernur?.

Ia barangkali belum tahu, begitulah seharusnya sikap seorang pemimpin menurut ajaran Islam. Tidak bersombong diri dengan kedudukannya, malah merendah di depan rakyatnya. Karena pada hakekatnya, ketinggian martabat pemimpin justru datang dari rakyat dan bawahannya.

(Sumber: Kisah Orang-orang Sabar Karangan Nasiruddin M. Ag/Pz)